Senin, 01 September 2014

MENGUATKAN SUKMA DENGAN PUASA NGEBLENG

MENGUATKAN SUKMA DENGAN PUASA NGEBLENG

Puasa umumnya dimulai saat subuh dan buka puasa saat mahgrib. Malam
harinya bebas makan dan minum.
Puasa 1 hari, berarti selama 1 hari berpuasa dari subuh sampai
mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.
Puasa 3 hari, berarti selama 3 hari berpuasa dari subuh sampai
Ilustrasi Gambar
mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.
Puasa 7 hari, berarti selama 7 hari berpuasa dari subuh sampai
mahgrib, malam harinya bebas makan-minum.

Puasa ngebleng tidak seperti itu.
Puasa ngebleng secara sederhana bisa disebut puasa penuh 1 hari 1 malam.
Puasa ngebleng 1 hari berarti puasa penuh 1 hari 1 malam
berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.
Puasa ngebleng 3 hari berarti puasa penuh 3 hari 3 malam
berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.
Puasa ngebleng 7 hari berarti puasa penuh 7 hari 7 malam
berturut-turut tanpa putus tidak makan dan minum.

Apa benar ada puasa ngebleng 7 hari 7 malam berturut-turut tanpa putus
? Ada yang sanggup ?
Bagaimana dengan puasa ngebleng 40 hari 40 malam berturut-turut tanpa
putus. Siapa yang sanggup ?
           Ketika seseorang berpuasa ngebleng, pada hari pertama puasanya dia
akan merasakan panas, lapar dan haus, sama dengan yang dialami orang
lain yang menjalani laku puasa biasa.
Pada hari kedua, orang tersebut akan merasakan tubuhnya panas, mungkin
juga sampai menyebabkannya sulit tidur di malam hari karena panasnya
tubuhnya. Karena tidak juga ada makanan dan minuman yang masuk ke
dalam tubuhnya, pada hari kedua itu tubuhnya mulai membakar cadangan
makanan yang ada dalam tubuhnya, air, lemak, protein, gula, dsb, untuk
dikonversi menjadi energi dan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh
sel-sel tubuhnya.
Pada hari ketiga, panas tubuhnya mereda dan berkurang, rasa lapar dan
haus hilang. Yang terasa hanya tubuhnya saja yang lemas karena
perutnya kempis tak terisi makanan.

Puasa ngebleng pada hari ketiga itu, yang dilakukan oleh orang-orang
yang bersamadi atau menyepi (walaupun di dalam rumah), tidak menonton
hiburan, tidak mendatangi tempat-tempat keramaian, dan tekun berdoa /
berzikir / wirid, kegaiban sukmanya akan kuat sekali dan akan memancar
cukup jauh. Kegaiban itu kuat sekali sampai bisa menarik perhatian
dari roh-roh leluhurnya, sehingga disadari ataupun tidak, banyak
leluhurnya yang mendatangi orang tersebut untuk mengetahui apa tujuan
dari lakunya itu dan akan berusaha membantu mewujudkan hajat niat dan
keinginannya.

Pada hari ketiga itu, disadari ataupun tidak, roh sukma orang tersebut
telah menguat, dan memancarkan aura kekuatan gaib yang menyebabkan
roh-roh gaib tidak tahan berada di dekatnya. Berbeda dengan puasa pada
orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khodam yang kondisi
berpuasanya dapat mengundang roh-roh gaib untuk datang mendekat, puasa
ngebleng ini justru pancaran gaib kekuatan sukmanya akan mengusir
keberadaan roh-roh gaib lain dari tubuhnya dan dari sekitar orang itu
berada.

Itu baru puasa ngebleng 3 hari, belum yang 7 hari, apalagi puasa
ngebleng 40 hari seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh-tokoh
kebatinan dan pertapa jaman dulu. Orang-orang yang terbiasa melakukan
puasa itu, seperti tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa jaman dulu, akan
memiliki kekuatan sukma yang luar biasa, yang bahkan pancaran energi
kekuatan sukmanya menyebabkan roh-roh gaib kelas atas setingkat dewa
dan buto pun tidak tahan berada di dekatnya dan tidak akan berani
datang mendekat untuk maksud menyerang.

Pancaran kekuatan sukma orang-orang itu saat sedang menjalankan laku
puasa dan tapa bratanya sangat menghebohkan alam gaib. Di pewayangan
pun diceritakan ketika ada seseorang yang gentur dalam laku puasa,
tapa brata dan semadinya, kondisinya menyebabkan kahyangan panas dan
goncang, dan menyebabkan para dewa tidak tahan, sampai-sampai para
dewa mengutus dewa lain atau bidadari untuk menghentikan /
menggagalkan tapa brata orang tersebut, dan mereka akan memberikan apa
saja yang diinginkan orang itu asal mau menghentikan tapanya.

Karena itu dalam melakukan puasa ngebleng orang-orang jaman dulu akan
melakukannya dengan cara menyepi, di dalam rumah, di goa, di hutan
atau di gunung, supaya tidak ada yang mengganggu.

Kekuatan kegaiban sukma orang-orang itu luar biasa sekali, sehingga
pada jaman dulu banyak tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa yang bukan
hanya linuwih dan waskita dan mumpuni dalam ilmu kesaktian, tetapi
juga menjadikan sukma mereka penuh dengan muatan gaib, sehingga
kemampuan moksa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kebatinan jaman dulu,
berpindah bersama raganya ke alam roh tanpa melalui proses kematian,
adalah sesuatu yang biasa. Bahkan banyak yang melakukan tapa brata
dalam rangka mandito meninggalkan keduniawiannya, kemudian moksa
dengan sendirinya dalam kondisi bertapa.

Orang-orang itu, karena kekuatan gaib sukmanya, tidak lagi membutuhkan
khodam mahluk halus untuk kekuatan ilmunya. Kekuatan dan kegaiban
sukmanya-lah yang melakukannya. Tetapi jika ada sesosok gaib yang mau
datang untuk menjadi khodam pendampingnya, maka hanya gaib-gaib yang
setingkat dengan kekuatan sukmanya saja yang akan datang menjadi
pendampingnya, bukan gaib-gaib umum kelas rendah yang tidak tahan
dengan pancaran energi kekuatan sukmanya.


Puasa ngebleng melambangkan kekuatan tekad dan niat seseorang untuk
terkabulnya suatu keinginan. Bahkan banyak orang pada jaman dulu yang
melakukan tapa dan puasa ngebleng, tidak akan menghentikan tapa
bratanya sebelum hajat keinginannya terkabul (sampai turun wangsit
bahwa permintaannya dikabulkan).

Puasa ngebleng terkait dengan kekuatan dan kegaiban sukma manusia.
Karena itu kegaiban dalam puasa ngebleng tidak dapat dibandingkan /
disamakan atau ditukar dengan puasa bentuk lain. Semakin gentur laku
puasa seseorang, semakin kuat sukmanya dan semakin kuat kegaibannya.
Puasa ngebleng banyak dilakukan oleh orang-orang yang bergelut dalam
dunia kebatinan / spiritual dan tapa brata.

Puncak kekuatan sukmanya hanya terjadi pada saat seseorang berpuasa
ngebleng, sedangkan pada hari-hari selanjutnya kalau sudah tidak lagi
melakukan puasa, maka kekuatan sukmanya itu akan menurun lagi. Karena
itu para pelaku kebatinan dan keilmuan kebatinan jaman dulu menjadikan
laku puasa ngebleng ini sebagai ritual yang akan selalu dilakukan
secara berkala. Juga dalam melatih keilmuannya atau ketika menekuni
suatu ilmu baru kesaktian / kebatinan akan dilakukannya sambil
berpuasa, sehingga kekuatan dan kegaiban ilmunya tinggi.

Tetapi jika puasa ngebleng itu dilakukan oleh orang-orang yang masih
awam dalam ilmu kegaiban, mungkin kegaiban dari kekuatan sukmanya itu
tidak akan banyak dirasakannya. Walaupun begitu, pancaran kekuatan
sukmanya itu akan menjauhkannya dari roh-roh gaib yang sifatnya
mengganggu, dan sisi lain dari kegaiban sukmanya akan membuat kekuatan
niat / tekad dalam keinginan-keinginannya menjadi lebih mudah terwujud
dan ketajaman dan kepekaan batinnya akan semakin tinggi.

Tetapi karena semakin banyaknya orang yang meninggalkan dunia
kebatinan, maka puasa ngebleng inipun semakin ditinggalkan. Bahkan
para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali mempermudah laku
puasanya. Misalnya untuk mendapatkan suatu ilmu gaib tertentu cukup
puasa biasa saja dari subuh sampai mahgrib, atau hanya puasa
berpantang makanan tertentu saja, yang dilakukan selama 3 hari, 7
hari, 21 hari, atau 40 hari, dan selama berpuasa itu malam harinya
diharuskan mewirid amalan gaibnya.

Selama berpuasa di atas pada malam harinya diharuskan mewirid amalan
gaibnya tujuannya adalah sebagai usaha melatih memperkuat kemampuan
seseorang dalam mengsugesti ilmu gaib. Dengan berhari-hari mewirid
suatu amalan gaib diharapkan kemampuan seseorang dalam mengsugesti
ilmu gaibnya akan kuat dan hapal mantranya diluar kepala.

Selama orang itu berpuasa dan berzikir / wirid, tubuhnya akan
memancarkan energi tertentu dan pikirannya akan memancarkan gelombang
pikiran tertentu. Pancaran energi tubuh dan gelombang pikiran inilah
yang seringkali mengundang datangnya suatu sosok mahluk halus tertentu
kepada manusia. Keberadaan sosok halus itu kemudian dapat menjadi
khodam ilmu gaibnya, menjadi sumber kekuatan gaibnya, sehingga
walaupun kemudian sudah tidak lagi rajin berpuasa dan tidak lagi rajin
mewirid amalan ilmunya, selama khodamnya bersamanya, kapan saja ilmu
itu diamalkan tetap akan berfungsi. Jadi bisa juga dikatakan, untuk
dengan sengaja mengundang suatu sosok gaib untuk datang menjadi khodam
pendamping, maka cara puasanya adalah puasa bentuk ini. Hanya saja
kita harus teliti dan waspada mengenai siapa sosok halus yang datang
mendampingi kita itu.

1 komentar:

  1. Yg komentar tukang tipu,mksih suhu atas pencerahannya🙏🙏🙏

    BalasHapus